aku menemukan kau
kau menemukan aku
aku dan kau membentuk kita
lalu.. kita menemukan kami
inilah muaranya...surga, (surga hati kita) ~ amante...
mario 21 nov 2010
*amante=kekasih (laki-laki) dari bahasia galisia
Mengenai Saya
Komentar
Category
- budaya (6)
- buku (4)
- catatan hati (4)
- Catatan Kecil (15)
- intermezo (1)
- jendela hati (12)
- komunitas (3)
- ucapan (1)
Selasa, 20 Desember 2011
Amante (
Diposting oleh
erni
di
08.50
0
komentar
Label: catatan hati
Lama aku tak merasa
lama aku tak merasa
merasa sesak seperti ini
ini seperti kenangan usang yang hadir kembali
kembali kutenangkan degupku
degupku bersama hujan sore ini
namun mengapa masih?
dan segala jawabnya kurasa tak perlu hadir,
sebab meski sehabis hujan, pelangi memberi tanda sukacitanya,
sore ini bukan untuk ku
lalu tiba-tiba Hp ku berdering...
dari lelaki yang pernah menjadi kekasihku
jauh dari seberang suaramu terdengar
kita bercakap sejenak
samar kudengar ucapmu “hubungi aku jika butuh pertolongan”.
ah..tahukah kau,
saat ini aku membutuhkanmu.
bukan untuk apa-apa, sekedar mendengar ceritaku,
"beberapa jam lalu hatiku dipatahkan... "
(untukmu lelaki yang kutemui sore ini. benar2 lama aku tak merasa seperti ini)
aura, 20 nov 2010
Diposting oleh
erni
di
08.48
0
komentar
Label: catatan hati
Erwin Aksa: Anak Muda Harus Punya Ambisi
Sunday, 12 June 2011
“BERIKANaku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, berikan aku 1 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia” Itulah salah satu kutipan kata- kata mutiara mantan Presiden pertama RI Soekarno yang selalu menjadi pijakan semangat pemuda Indonesia.
Tak hanya di masanya, tapi hingga kini. Lantang kalimat itu masih terus dikumandangkan. Kalimat Bung Karno itu seakan kembali terasa saat mendengar paparan Ketua Umum Badan Pengurus Pusat (BPP) Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Erwin Aksa yang tampil sebagai salah satu pembicara dalam dialog Rossi Goes to Campus di Universitas Hasanuddin (Unhas),kemarin. Meski tidak sama persis dalam kutipan Soekarno,tapi semangatnya bisa jadi sama.
“Anak muda harus punya ambisi.Karena anak muda memiliki energi besar untuk mewujudkan mimpi dan ambisinya,”kata Erwin, Lulusan University of Pittsburgh, Pennsylvania,Amerika Serikat itu mengatakan, sepanjang dalam hal positif, jangan pernah ragu untuk bertindak. Bisa jadi dengan acuan itu, menjadi dasar capaian Presiden Direktur Bosowa Corporation saat ini.Tentunya itu berawal dari tempaan sang ayah, Aksa Mahmud yang merupakan pendiri kerajaan bisnis Bosowa Group. Harus diakui, sejak lahir, Erwin sudah berada dalam kemapanan ekonomi.
Lelaki kelahiran 7 Februari 1975 itu, bisa saja bermanja-manja dari hasil usaha yang dibangun ayahnya. Tapi, itu tidak berlaku bagi ayah dari Trinisha, Shayla, dan Muhammad Yusuf ini. Di usianya yang masih belasan, Aksa Mahmud mengambil sikap tegas dengan “mengusir” Erwin dari Makassar Lulus sekolah dasar, Erwin sompe’ (Bahasa Bugis) atau merantau ke Bandung. Di Kota Kembang itulah, Erwin ditempa. Tinggal di kamar kontrakan yang diibaratkan serupa barak. Satu kamar diisi 6 orang dan saat hendak mandi,harus antre. Kehidupan yang tidak pernah dia rasakan saat di kampung halamannya.
“Dari kecil saya memang sudah diberi tantangan hidup dan tidak pernah diberi kemudahan. Hal inilah yang akhirnya mengasah karakter saya sebagai seorang pemimpin,” ungkap putra pertama Aksa Mahmud ini. Usai menamatkan SMP dan SMA di Bandung, Erwin kembali harus meninggalkan jazirah Sulawesi lebih jauh, yakni ke Negeri Paman Sam. Selesai kuliah di University of Pittsburgh tahun 1997, Erwin kembali ke tanah air. Belum lama di Tanah Air, Indonesia bergolak.Tahun 1998, demonstrasi menuntut reformasi tatanan negara berlangsung di seluruh pelosok negeri.
Awalnya,Soeharto,yang kala itu berkuasa,enggan dilengserkan. Jiwa sebagai generasi muda harapan bangsa,Erwin ikut ambil bagian dalam gerakan reformasi itu. Erwin kemudian tampil sebagai sponsor demonstrasi di Makassar. “Truk kami keluarkan. Akhirnya mampu mematahkan aktivitas penerbangan di Bandara Hasanuddin saat itu karena diblokir oleh truk-truk tersebut,”kisahnya. Erwin yang mengenakan kemeja putih bermotif garis biru, membagi kisah hidupnya kepada peserta dialog yang diperkirakan mencapai ribuan orang.
Menurut dia,untuk menjadi pemimpin, tidak ada yang dibangun secara instant,namun harus melalui proses. Pengejawantahan energi mudaErwinpernahdibuktikansaat dirinya menjabat sebagai Manajer PSM.Usianya kala itu masih kisaran 20-an tahun. Banyak yang sangsi. Apakah nantinya PSM Makassar bisa sukses? Tapi, dengan semangat dan keinginan terus belajar, Erwin berhasilmembawa PSMmenjadi juara Liga Indonesia tahun 1999- 2000.“Sejak saat itu,sudah tidak ada lagi yang meragukan kepemimpinan anak muda,”katanya.
Beberapa waktu lalu, Erwin ikut meramaikan bursa pemilihan ketua umum PSSI yang digelar di Jakarta beberapa waktu lalu. Kisruh internal PSSI tak membuatkeinginanErwinsurut. Tentunya ini masih butuh pembuktian dalam beberapa waktu mendatang, apakah semangat dan strategi jiwa mudanya mampu mengalahkan kandidat lain. Lantas apa lagi yang ingin diraihnya?
Ternyata mimpinya adalah membangun Makassar yang lebih baik. Lelaki yang pernah dinobatkan sebagai CEO termuda di Kawasan Indonesia Timur ini mengaku, Makassar hanya bisa maju jika dibangun oleh orang-orang Makassar sendiri. herni amir
sindo
Diposting oleh
erni
di
08.46
0
komentar
Kamis, 18 November 2010
Cenning rara, Alternatif Mendapatkan Jodoh??? (dimasanya)

(Tulisan ini lahir dari dialog silam dengan Seorang Sahabat Dosen Sastra Unhas empat tahun lalu)
Mencari pasangan hidup memang bukan perkara mudah. Kata orang, susah-susah gampang. Beragam taktik dimainkan- pun beragam cara dilakukan, untuk menemukan “dia” sang belahan jiwa. Satu diantaranya cenningrara, sebuah cara yang biasa ditempuh para gadis sejak lampau di tanah bugis.
Siapa yang ingin hidup melajang selamanya. Telat jodoh saja sudah membuat kegelisahan luar biasa, tidak saja pada yang bersangkutan tapi juga pada keluarga. Apalagi bagi sang perempuan, tidak seorang pun ingin dicap “lolobangko” atau perawan tua atau yang lebih menakutkan lagi menyandang predikat gadis seumur hidup.
Untuk itu, pembenahan diri dengan berusaha tampil paripurna kerap dilakukan. Bagi perempuan masa kini, spa dengan rangkaian perawatannya mungkin telah menjadi menu wajib. Sementara itu, bagi sebagian dara bugis, mereka telah mengantongi warisan leluhur yang diyakini dapat membuat penampilan lebih menarik dalam keseharian. Resep mujarab itu bernama “cenningrara”.
Dalam sejarahnya, cenningrara adalah prosesi untuk mengeluarkan aura dari dalam diri, sehingga telah menjadi sebuah kepercayaan bahwa dengan menggunakan cenningrara akan mendatangkan jodoh lebih mudah.
Cenningrara sendiri berasal dari kata cenning yang berarti manis dan cendra atau cendrara yang berarti bulan atau matahari yang pada hakekatnya adalah cahaya. Apalagi bulan dalam konteks kebudayaan Bugis merupakan puncak keindahan alam dan di alam. Maka, manis dari keduanya tak lain dimaktubkan untuk membuat diri dan penampilan kian bercahaya seperti bulan atau matahari bagi anak perawan. Cenning rara ini biasa dilakukan dengan media minyak kelapa yang ditanak, telur yang direbus, atau beras yang dijadikan bedak.
Dalam perjalanannya, cenningrara pun terkoptasi oleh nilai-nilai religi yang berkembang di masyarakat. Kuatnya pengaruh islam, menuai perubahan dalam dalam pengadaan media dan mantranya.
Dari perbincangan saya dengan seorang sahabat bernama Pammuda yang kini menjadi dosen Sastra Unhas , pada zaman pra-islam, seremonial untuk mendapatkan cenningrara bersifat lebih ekstrim. Karena dalam konteks kebudayaan bugis, bulan dianggap sebagai puncak keindahanalam dan dialam, maka bagi anak perawan yang berminat memperolehnya, cenningrara hanya dapat dilakukan pada saat gerhana bulan.
Menyediakan medianya pun tidak tanggung-tanggung, harus merupakan hasil curian sebagai prasyarat sebuah totalitas diri yang hanya menggunakan tubuh tanpa secuil kain melapisinya (baca telanjang)
Akan tetapi, ungkap Pammuda, karena barang yang dicuri semata hanya untukperuntukan cenningrara, maka pembelajaran mencuri dalam konteks cenningrara tidak ada. Motif pencurian ini hanya sekedar menjalankan misi pemujaan terhadap keindahan bukan motif ekonomi.
Lantas bagaimana dengan keadaan diri bebas terbuka tanpa sehelai benang? Pammuda menuturkan, bahwa dalam kerangka pemikiran fisik, dicobalah peniruan makro oleh mikro. Bulan dianggap sebagai mahkota alam. Ketika sang bulan menghilang, maka alam diperumpakan telanjang. Manusia sebagai mikro hendak meniru alam yang mencari rembulan tersebut, maka telanjanglah mereka. Kini dalam keadaan seperti itu, samalah dalam keadaan alam yang mencari.
Berdasarkan pada persepsi demikian, dalam keadaan mencari, maka ketika dengan niat tertentu mengambil (mencuri) barang-barang, diasumsikan mereka telah menemukan bulan yang siap memperindah dirinya dan itulah yang kemudian disebut cenningrara.
Sementara itu, perubahan paling mendasar dari prosesi ini setelah masuknya ajaran islam, dengan dihilangkannya syarat telanjang dan mencuri. Tapi jangan berlega hati dulu. Sebab kini, bagi si pencari cenningrara harus membawa seekor ayam putih atau ayam hitam kepada sanro (dukun) , disertai sejumlah uang dalam nominal tertentu. Bacaan yang melengkapi medianya pun ditambahkan dengan Fatimah putri Rasulullah SAW dan Barrakka La Ilaha Illaallah dengan arti semoga Allah mengabulkan. Sebuah pendeskripsian penyerahan diri seorang hamba kepada Tuhannya, bahwa segala usaha yang dilakukan penentuannya berpulang kembali kepada kuasa Tuhan.
Berikut petikan mantra yang biasa diapaki atau dibaca dengan menggunakan bedak. Bacaan ini diajikan sesaat sebelum bedak tersebut dipakai atau disapukan keseluruh permukaan wajah. Berikut kutipannya:
Bedda’na Fatimah u Wabedda,
U paenre ri rupakku
Namatappa pada uleng tepu
Barakka La Ilaha Illallah
Artnya;
Bedaknya Fatimah yang kupakai
Kupakai diwajahku
Dan bercahaya seperti bulan purnama
Semoga allah mengabulkan
Ini lah sekelumit tentang cenningrara. Berminat mencoba? Itu sebuah pilihan bebas. Tapi satu point, penyertaan Tuhan adalah hal terpenting yang tidak boleh terabaikan. Sebab sejatinya, keberhasilan akan mencapai tingkat kesempurnaan jika sebuah usaha dibarengi dengan ridho san Khalik, termasuk dalam hal cinta aksih. Bukankah Tuhan sang pemilik cinta? Semoga cinta anda kepada pasangan merupakan bentuk manifestasi cinta anda kepada Tuhan.
Makassar, 2006
Diposting oleh
erni
di
02.21
0
komentar
Label: budaya
Sabtu, 13 November 2010
Hari ini, aku tak menyukaimu Ibu
Hari ini aku tak menyukaimu Ibu....sudah jam 12 siang kau belum juga pulang dari rapat PKK. Keningku tak sempat kau kecup, apalagi menanyakan bagaimana kabarku hari ini di sekolah. Padahal aku ingin memberitahumu, nilai ulangan matematikaku 10 , bukan memberitahumu lagi- aku habis berkelahi dengan teman sekelas laki-lakiku..
Ibu..aku juga berhasil menghafal 20 surah juz amma. Hanya satu orang yang berhasil mengalahkan hafalanku hari ini. Tapi bagaimana kuceritakan kalau ibu tak ada.
Hari ini sebelum kau mengecup dan memelukku, aku ingin lihat senyum ibu. Bukan gelengan kepala, lalu mencubit pipiku gemas, karena kukatakan aku berhasil menonjok mata teman kelasku yang mulai genit.
Sudah satu jam aku menunggumu bu..., bolak balik, dari pintu rumah ke pintu pagar. Lalu menengok kiri dan kanan, berharap ibu muncul tiba-tiba . Seragam sekolah tidak aku ganti. Apalagi menyentuh makanan yang sudah tersaji di meja makan.
Ibu..aku menggerutu kesal pada ibu camat. Bulan agustus begini, ibu camat pasti mondar-mandir ke rumah kita. Dia seperti lalulintas tak bersahabat yang siap mengambil seluruh perhatianmu.
Ah..apa begini nasib anak yang memiliki ibu berwajah manis, pintar memasak, jago bulu tangkis, pintar main volli, juga jago menyanyi...
Ibu kakiku sudah pegal berdiri di pintu pagar. Kenapa ibu belum juga pulang. Tolong jangan terlalu lama diluar, disini aku merindukanmu..
(jadi ingat, setiap pulang sekolah bagiku adalah hal wajib ibu ada dirumah..u ibuku sayang, trimakasiu semuanya ibu...)
Diposting oleh
erni
di
17.07
0
komentar
Label: catatan hati
Selasa, 02 November 2010
F I K R I
di labirin mana kau menyimpan perih? Tak kutemukan air matamu sore itu. Bukan karena kau lelaki lantas tak boleh menangis. Bukankah Rasulullah juga lelaki yang paling sering menangis?
..berdiri - sepenggal langkah - lalu terjatuh. Berdiri - sepenggal langkah – lalu terjatuh lagi. Berulang dan berulang.
Jangankan berjalan, berdiri pun ternyata sulit. Begitulah dia, bocah empat tahun yang kukenal lewat perjumpaan sederhana.
Namanya Fikri. Pertama kali kutemukan duduk dibangku panjang dalam ruangan fisioterapi sebuah klinik. Mengalami kelainan tulang sejak lahir. Kedua kakinya bengkok.
Hampir separuh usianya dihabiskan di tempat ini. Boleh aku bertanya sekali lagi, di labirin mana kau menyimpan perih, hingga tak kutemukan air matamu sore itu...
Sayang...melihatmu seperti melihat halaman-halaman pada sebuah ensiklopedia bernama ketabahan, keberanian, perjuangan, dan, tentu saja harapan.
Usiamu boleh kecil. Tapi keadaan sudah memberimu pelajaran bahwa hidup tak selalu memberi kemudahan.
Nak.. aku suka semangatmu. Dengan doa, semoga kelak kita kembali berjumpa. Di musholla-ketika sholat magrib, dan kusaksikan kau berdiri sebagai imam.
Okt 2010, dari sebuah ruang fisioterapi
Diposting oleh
erni
di
17.38
0
komentar
Label: jendela hati
Hujan dan Kenangan
Hujan kembali turun sore ini. Meski malu-malu, butirannya terlihat jelas jatuh ke bumi. Aku diam menikmati milo hangat kesukaanku. Sepiring pisang goreng keju masih utuh belum tersentuh, tersaji di tengah meja terasku.
Aku suka hujan. Suka suaranya, suka harapan yang dibawanya. Hujan turun, pertanda rezki bagi bumi.
Dulu sewaktu kecil jika hujan datang, ku lewatkan dengan tawa, berlari, berputar, menari dan bernyanyi di pekarangan rumah. Dan ibu yang kerap berteriak memanggil namaku berulang, menyuruhku segera masuk. Aku tahu ibu selalu saja khawatir aku jatuh sakit sesudahnya.
Bisa ditebak, omelan kecil pasti mengalir dari bibir perempuan syurga itu. Lalu menyiapkan air hangat untuk kumandi kembali. Menggosok badanku dengan minyak kayu puith. Milo hangat dan sepiring pisang goreng pun akan kunikmati. Sama seperti sore ini.
Ah..Ibuku... Dalam hujan pun kasih sayangnya tetap hangat terasa
Ingatanku lalu beralih kepadamu. Sudah tiga kali hujan kita lewati bersama. Masih ingatkah kau sepenggal kenangan kita bersama hujan? tentang sepasang suami isteri diatas vespa tua, riang dalam lebatnya hujan di jalan Sudirman?
“Mungkin mereka sedang bernostalgia mengenang kemesraan masa muda dulu, sama saat umur kita nantinya seperti mereka, menggunakan motor ini,”katamu sambil tertawa.
Hujan terimakasih. Karena butiran bersama sesekali dentuman petirmu, mampu menahan langkah kami untuk pulang sore itu, menikmati sisa waktu sebelum magrib tiba dimana aku sudah harus ada di rumah.
Aku tahu, kau ikut tersenyum ketika kunikmati wajahnya dari sudut mataku, suaranya yang asih, dan sepasang matanya yang bercahaya. Dan kaupun tertawa saat mendapatinya mencuri pandang kepadaku. Lalu kami tersenyum bersama, dengan butiranmu yang perlahan melemah.
Hujan.. kau menyukainya ya..maaf aku tak dapat memenuhi janjiku kepadamu untuk terus bersamanya. Kini..kami bersepakat mengambil jalan berbeda.
makassar, 3 Sept 2010
Diposting oleh
erni
di
17.36
0
komentar
Label: catatan hati
blog teman
-
Fwd: Pelatihan Nasional K3 Medis / K3RS - ---------- Pesan terusan ----------Dari: INFO DIKLAT Tanggal: 12 November 2016 23.15Subjek: Fwd: Pelatihan Nasional K3 Medis / K3RSKep...9 tahun yang lalu
-
CONFIRM YOUR TRANSFER. - From The Desk of: Mr. Andrew Tweedie, Finance Department Director International Monetary Fund(IMF) Attn: Beneficiary, I wish to inform you that after m...12 tahun yang lalu
-
Mendagri Ragu Tentukan Posisi Obed - Friday, 03 February 2012 JAKARTA – Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Gamawan Fauzi masih ragu mengambil keputusan untuk mengembalikan jabatan Obednego Deppar...14 tahun yang lalu
-
Sejarah MANUJU - MANUJU.. merupakan salah satu kerajaan dari sekian banyak kerajaan di Sulawesi Selatan yang terletak di kabupaten GOWA dan merupakan kerajaan kembar dengan...17 tahun yang lalu
-