PEMUTARAN FILM “KITA VERSUS KORUPSI”-
Wednesday, 29 February 2012
Apa jadinya bila korupsi sudah dianggap menjadi hak? Apa pula sebutannya bila kebenaran menjadi soal selera dan moralitas jadi pilihan individu? Boleh berbohong, boleh tidak jujur,asal tidak ketahuan,kemudian menjadi sebuah budaya.
Itulah korupsi. Ironisnya,meski beragam upaya dan wacana terus dilangsungkan untuk memerangi korupsi, praktik ini tetap berlangsung. Sebut saja praktik yang mewajibkan siswa membeli buku yang dikeluarkan pihak sekolah dengan harga jual yang lebih tinggi dari toko buku. Inilah sentilan moral yang coba diangkat film Psstt… Jangan Bilang Siapa-Siapa, yang menjadi salah satu dari empat film Kita versus Korupsi (KvsK) yang ditayangkan di Studio XXI Mal Panakkukang Makassar,kemarin.
Film dengan ide cerita milik Kurnia Ratna Yuliati, siswi SMA 18 Makassar, tersebut bertutur tentang persahabatan tiga sekawan pelajar SMA,Olla (Alexandra Natasha),Gita (Nasya Abigail),dan seorang temannya,(Siska Selvi Dawsen).Film karya sutradara Chairun Nissa bercerita tentang gaya hidup dan permisif terhadap praktik pemerasan di sekolah yang kemudian direkam seorang siswa,Gita.
Tak hanya praktik mark-up yang diperlihatkan film ini, tapi juga kelihaian menipu seorang anak kepada orang tuanya dengan melebihkan permintaan dana untuk setiap kebutuhan sekolah ataupun jajan demi meng-update gadget dan fashion.Sayang, keluarganya tidak ambil pusing karena ayahnya di kantor maupun ibunya di rumah terbiasa pula melakukan hal yang sama.
“Kami yakin film ini dapat menjadi media kampanye antikorupsi yang kreatif karena lebih menarik dan pesannya lebih mudah dicerna publik,” ungkap Doty dari KPK. Selain Psstt… Jangan Bilang Siapa-Siapa, film atas kerja sama Komisi Pemberantasan Korupsi bekerja sama dengan Transparency International Indonesia (TII) tersebut juga menampilkan tiga film pendek lain dengan ide cerita berbeda.
Sementara film Aku Padamu karya sutradara Lasja F Susatyo mengisahkan tentang upaya sepasang kekasih untuk menikah di KUA.Karena tidak memiliki kartu keluarga,sang pemuda mencoba menyogok orang yang bekerja di KUA.Namun, pasangannya tidak setuju karena perbuatan tersebut dianggap sebagai “menyogok Tuhan”.●
HERNI AMIR
Makassar
Mengenai Saya
Komentar
Category
- budaya (6)
- buku (4)
- catatan hati (4)
- Catatan Kecil (15)
- intermezo (1)
- jendela hati (12)
- komunitas (3)
- ucapan (1)
Selasa, 27 Maret 2012
Katakan Tidak untuk Korupsi
Diposting oleh
erni
di
23.38
0
komentar
Label: budaya
Menyelami Budaya Kajang lewat Film
PEMUTARAN FILM DOKUMENTER PASANG RI KAJANG - Menyelami Budaya Kajang lewat Film
Monday, 20 February 2012
Dunia dan peradaban manusia boleh terus berubah.Namun kearifan nilai tradisi lokal yang diwariskan nenek moyang tidak mesti dilupakan.Bahkan, nilai tradisi tersebut terus dihidupi untuk menciptakan keseimbangan kehidupan.
Prinsip luhur kehidupan ini dianut oleh komunitas Kajang yang berdiam salah satu kawasan di wilayah Kabupaten Bulukumba. Kearifan budaya dan keunikan warga Kajang sudah dikenal luas hingga mancanegara.Salah pesan dari para leluhur komunitas Kajang adalah bagaimana manusia harus hidup berdampingan dengan alam sekitar.Hidup dengan bekerja keras dan menjaga harmonisasi dengan alam adalah salah satu ciri utama warga Kajang.
Kesederhanaan warga Kajang inilah yang direkam oleh mahasiswa ilmu Komunikasi Unhas melalui film dokumenter Pasang ri Kajang yang diputar di BaKTI,Jalan Dr Soetomo, Makassar,Jumat (17/2) malam. Melalui dokumenter berdurasi 36 menit ini, penonton bisa melihat dari dekat bagaimana warga Kajang melakukan aktivitas sehari-hari penuh dengan kearifan dan kesederhanaan.
Tak ada yang berlebihan. Semuanya dibuat sesuai dengan kebutuhan.Sehingga, segala sesuatu yang mencakup kehidupan sekitarnya,baik makanan,pakaian,kebun, sawah,maupun hal-hal yang berkaitan dengan rumah mereka semuanya serba sederhana.Tidak ada sesuatu pun yang berlebihan termasuk dalam pemanfaatan sumber daya alam. Pasang (pesan) inilah yang secara turun temurun dipegang oleh komunitas Kajang.
Bagi orang Kajang, dunia tempat berpijak hanyalah persinggahan menuju akhirat yang kekal. Untuk mencapai kekekalan itu hanya bisa dilakukan jika mereka menerapkan pola sederhana (tallasa kamasemase). Kesederhanaan lain dari suku ini tergambar secara simbolis melalui pakaian warna hitam yang dikenakan. Warna ini dimaksudkan agar dalam kehidupan manusia selalu mengingat kematian. “Hitam dilambangkan lahir dalam keadaan gelap dan meninggal dalam keadaan gelap,”ungkap Ilham Nur Bardiansyah,sutradara Pasang ri Kajang.
Menurut Ilham,film itu mencoba bertutur banyak tentang bagaimana warga Kajang hidup bermartabat dengan menjalin keselarasan dengan alam dan sesama manusia. Makadalam dokumenter ini,Ilham banyak menyuguhkan ritual-ritual suku Kajang yang mendukung pola komunitas ini. Sebut saja ritual andingingi yang bertujuan memberikan ketenangan dan terhindar dari hawa nafsu yang menyesatkan.
Atau, bagaimana masyarakat Kajang mengormati alam dengan menerapkan aturan pokok tak bisa menebang pohon di hutan,menebagng rotan,menangkap udang,dan membakar lebah. Bagi yang menebang satu pohon,maka wajib hukumnya untuk mengganti dengan tiga pohon. Bagi yang melanggar akan didenda Rp8 juta dan jika tidak mengakui kesalahan maka dilakukan ritual adat sehingga perut si bersalah akan membusuk yang membuat yang bersangkutan tak dapat mengelak lagi.
Menurut Ilham,Pasang ri Kajang memang film yang memuat pesan maupun wasiat turun temurun,aturan tidak tertulis yang mencakup keyakinan,aturan masyarakat, hingga ritual adat.Warga Kajang yakin bahwa asal-usul kehidupan dimulai di tanah yang mereka tinggali,yaitu possi tana (pusat bumi). Mereka berupaya mempertahankan budaya dengan resistensi mitologi.
Menurut Ilham,tema ini sengaja diangkat agar masyarakat luar kajang dapat mengetahui secara jelas dan tidak menganggap tabu sebuah budaya. Selama ini,kata dia, masyarakat cenderung skeptis terhadap suku asli Tana Toa tersebut. Kajang yang dikenal dengan komunitas Ammatoanya dianggap tertutup. Padahal jika mengenal lebih dalam,sesungguhnya Kajang adalah suku yang terbuka, ramah,dan bersahaja.
Sehingga siapapun dan dari mana pun yang tertarik,dapat berkunjung dan mempelajari budaya mereka. “Bisa dikatakan film ini menggambarkan budaya masyarakat kajang secara holistic atau menyeluruh, memaparkan budaya,tradisi lisan,hingga resistensi mitologi masyarakat Kajang,” ungkapnya. ● HERNI AMIR Makassar
Diposting oleh
erni
di
23.36
0
komentar
Label: budaya
Sitobo Lalang Lipa Pentas di Srilangka
Colombo International Theather Festival (CITF) 2012
Ketika jalan untuk menegakkan kehormatan tidak menemui titik temu, maka duel sampai mati menjadi jalan terakhir penyelesaian sengketa
Inilah inti cerita yang akan dipentaskan oleh Mahasiswa Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar yang tergabung dalam Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Seni dan Budaya Talas yang mewakili Indonesia pada ajang Colombo International Theather Festival (CITF) 2012, di Kolombus, Sri Langka.
Cerita bertajuk Sitobo Lalang Lipa and The Other Stories diangkat dari prinsip masyarakat Sulawesi Selatan Siri’na Pacce yang kemudian di aplikasikan dalam hukum adat oleh masyarakat Bugis Makassar yakni sitobo lalang lipa (saling tikam di dalam sarung).
Dalam cerita berdurasi 40 menit ini, lipa dipersepsikan sebagi lini. Segala persoalan akan diselesaikan hanya dalam sarung, meski nyawa taruhannya. Akan tetapi sesudahnya, masing-masing pihak yang bertikai tidak boleh lagi menyimpan dendam dan menganggap perkara sudah selesai.
“secara harfiah memang ini duel di dalam sarung, tetapi secara filosofis ini adalah bentuk penyelesaian perkara yang dianut masyarakat bugis Makassar dulu,”ungkap Sutradara sekaligus penulis naskah Dhodil Kakilangit saat melakukan jumpa pers di Unismuh kemarin.
Cerita ini, berkisah tentang percintaan dua sejoli dengan perbedaan strata social. Tokoh utama dalam lakon ini adalah anak seorang Raja, Karaeng Saleng To Marubayya yang menjalin asmara dengan gadis dari golongan ata (pelayan) Rannu.
Konflik mulai terjadi ketika Rannu akhirnya hamil di luar nikah lalu Karaeng Saleng menolak untuk bertanggung jawab. Merasa dendam kakak lelaki Rannu, Kulle akhirnya memikat hati saudara perempuan Karaeng Saleng, Andi Basse sampai akhirnya mereka memutuskan untuk Silariang.
Dari kejadian-kejadian inilah, akhirnya konflik kian meruncing. Karena tidak ada titik temu, Karaeng saleng dan Kulle akhirnya menyelesaikan segala perselisihan dengan duel dalam sarung hingga salah satu pihak meregang nyawa.
Untuk memudahkan penononton mengikuti alur cerita, pentas ini kemudian dikemas dalam bentuk dance theater dengan lebih mengedepankan kekuatan gesture tubuh dan musik. Bentuk ini diyakini lebih mampu menyampaikan pesan kepada penonton.
“Penonton kita berasal dari berbagai Negara. Karena musik dan gerak tubuh adalah bahasa universal yang paling mudah dipahami, maka untuk pertunjukan Kolombo, kami mengubah dari bentuk realis theater menjadi dance theater,”katanya.
Selain Talas dari Unismuh sebagai wakil dari Indonesia, Colombo International Theather Festival juga akan dimeriahkan oleh 10 peserta lainnya yang berasal dari delapan Negara seperti Iran, Mumbai, Pakistan, India, Ustralia, Germany, Chennai, dan Pune.
“Ini tentu sebuah kebanggan bagi kami. Kami bisa ikut berpartisipasi setelah melewati kualifikasi oleh tim panitia yang diikuti 8o Negara peserta,”ungkap Pembina UKM Seni dan Budaya Talas Muh Thahir M.
Dan tidak hanya pementasan theater saja yang akan mereka lakukan selama di Colombo. Akan tetapi rombongan juga akan berpartisipasi penuh dalam Indonesian Day dengan tema South Sulawesi In Colombo dengan membawa kuliner khas Makassar Coto Makassar, Dange, Pallumara, Konro, Barongko, Pisang Epe, Pallubutung dan lain-lain.
Diposting oleh
erni
di
23.26
0
komentar
Label: budaya
Kamis, 18 November 2010
Cenning rara, Alternatif Mendapatkan Jodoh??? (dimasanya)

(Tulisan ini lahir dari dialog silam dengan Seorang Sahabat Dosen Sastra Unhas empat tahun lalu)
Mencari pasangan hidup memang bukan perkara mudah. Kata orang, susah-susah gampang. Beragam taktik dimainkan- pun beragam cara dilakukan, untuk menemukan “dia” sang belahan jiwa. Satu diantaranya cenningrara, sebuah cara yang biasa ditempuh para gadis sejak lampau di tanah bugis.
Siapa yang ingin hidup melajang selamanya. Telat jodoh saja sudah membuat kegelisahan luar biasa, tidak saja pada yang bersangkutan tapi juga pada keluarga. Apalagi bagi sang perempuan, tidak seorang pun ingin dicap “lolobangko” atau perawan tua atau yang lebih menakutkan lagi menyandang predikat gadis seumur hidup.
Untuk itu, pembenahan diri dengan berusaha tampil paripurna kerap dilakukan. Bagi perempuan masa kini, spa dengan rangkaian perawatannya mungkin telah menjadi menu wajib. Sementara itu, bagi sebagian dara bugis, mereka telah mengantongi warisan leluhur yang diyakini dapat membuat penampilan lebih menarik dalam keseharian. Resep mujarab itu bernama “cenningrara”.
Dalam sejarahnya, cenningrara adalah prosesi untuk mengeluarkan aura dari dalam diri, sehingga telah menjadi sebuah kepercayaan bahwa dengan menggunakan cenningrara akan mendatangkan jodoh lebih mudah.
Cenningrara sendiri berasal dari kata cenning yang berarti manis dan cendra atau cendrara yang berarti bulan atau matahari yang pada hakekatnya adalah cahaya. Apalagi bulan dalam konteks kebudayaan Bugis merupakan puncak keindahan alam dan di alam. Maka, manis dari keduanya tak lain dimaktubkan untuk membuat diri dan penampilan kian bercahaya seperti bulan atau matahari bagi anak perawan. Cenning rara ini biasa dilakukan dengan media minyak kelapa yang ditanak, telur yang direbus, atau beras yang dijadikan bedak.
Dalam perjalanannya, cenningrara pun terkoptasi oleh nilai-nilai religi yang berkembang di masyarakat. Kuatnya pengaruh islam, menuai perubahan dalam dalam pengadaan media dan mantranya.
Dari perbincangan saya dengan seorang sahabat bernama Pammuda yang kini menjadi dosen Sastra Unhas , pada zaman pra-islam, seremonial untuk mendapatkan cenningrara bersifat lebih ekstrim. Karena dalam konteks kebudayaan bugis, bulan dianggap sebagai puncak keindahanalam dan dialam, maka bagi anak perawan yang berminat memperolehnya, cenningrara hanya dapat dilakukan pada saat gerhana bulan.
Menyediakan medianya pun tidak tanggung-tanggung, harus merupakan hasil curian sebagai prasyarat sebuah totalitas diri yang hanya menggunakan tubuh tanpa secuil kain melapisinya (baca telanjang)
Akan tetapi, ungkap Pammuda, karena barang yang dicuri semata hanya untukperuntukan cenningrara, maka pembelajaran mencuri dalam konteks cenningrara tidak ada. Motif pencurian ini hanya sekedar menjalankan misi pemujaan terhadap keindahan bukan motif ekonomi.
Lantas bagaimana dengan keadaan diri bebas terbuka tanpa sehelai benang? Pammuda menuturkan, bahwa dalam kerangka pemikiran fisik, dicobalah peniruan makro oleh mikro. Bulan dianggap sebagai mahkota alam. Ketika sang bulan menghilang, maka alam diperumpakan telanjang. Manusia sebagai mikro hendak meniru alam yang mencari rembulan tersebut, maka telanjanglah mereka. Kini dalam keadaan seperti itu, samalah dalam keadaan alam yang mencari.
Berdasarkan pada persepsi demikian, dalam keadaan mencari, maka ketika dengan niat tertentu mengambil (mencuri) barang-barang, diasumsikan mereka telah menemukan bulan yang siap memperindah dirinya dan itulah yang kemudian disebut cenningrara.
Sementara itu, perubahan paling mendasar dari prosesi ini setelah masuknya ajaran islam, dengan dihilangkannya syarat telanjang dan mencuri. Tapi jangan berlega hati dulu. Sebab kini, bagi si pencari cenningrara harus membawa seekor ayam putih atau ayam hitam kepada sanro (dukun) , disertai sejumlah uang dalam nominal tertentu. Bacaan yang melengkapi medianya pun ditambahkan dengan Fatimah putri Rasulullah SAW dan Barrakka La Ilaha Illaallah dengan arti semoga Allah mengabulkan. Sebuah pendeskripsian penyerahan diri seorang hamba kepada Tuhannya, bahwa segala usaha yang dilakukan penentuannya berpulang kembali kepada kuasa Tuhan.
Berikut petikan mantra yang biasa diapaki atau dibaca dengan menggunakan bedak. Bacaan ini diajikan sesaat sebelum bedak tersebut dipakai atau disapukan keseluruh permukaan wajah. Berikut kutipannya:
Bedda’na Fatimah u Wabedda,
U paenre ri rupakku
Namatappa pada uleng tepu
Barakka La Ilaha Illallah
Artnya;
Bedaknya Fatimah yang kupakai
Kupakai diwajahku
Dan bercahaya seperti bulan purnama
Semoga allah mengabulkan
Ini lah sekelumit tentang cenningrara. Berminat mencoba? Itu sebuah pilihan bebas. Tapi satu point, penyertaan Tuhan adalah hal terpenting yang tidak boleh terabaikan. Sebab sejatinya, keberhasilan akan mencapai tingkat kesempurnaan jika sebuah usaha dibarengi dengan ridho san Khalik, termasuk dalam hal cinta aksih. Bukankah Tuhan sang pemilik cinta? Semoga cinta anda kepada pasangan merupakan bentuk manifestasi cinta anda kepada Tuhan.
Makassar, 2006
Diposting oleh
erni
di
02.21
0
komentar
Label: budaya
Kamis, 11 Desember 2008
Balla Lompoa
Balla Lompoa berdiri diatas lahan seluas 2 hektare tepat di jantung kota sungguminasa ibu kota kab Gowa. Meski dikelilingi bangunan berarsitektur modern, salah satu artefak kerajaan Gowa itu tetap memancarkan aura kemegahan masa lalu.
Meski kini berubah wajah menjadi sebuah museum, kondisi Balla Lompoa tetap saja sepi. Daun-daun kering berserakan disana-sini, begitupula dengan sampah plastik bekas pembungkus kerupuk. Hanya saja, menyusuri keheningannya, tetap saja mengundang khidmat dan hormat yang dalam.
Balla Lompoa memiliki panjang 52 meter dan lebar 20 meter. Balla Lompoa yang berarti rumah kebesaran didirikan tahun 1936, masa pemerintahan Raja Gowa ke 35 I Mangngi-Mangngi Dg Matutu Karaeng Bontonompo bergelar Sultan Mahmud Tahir Mahibuddin.
Hanya dua raja yang pernah menempati istana ini. Setelahkematian Raja Gowa ke 35, pemegang tahta selanjutnya A Idjo Daeng Mattawang Karaeng Lalolang Sultan Muhammad Kadir Aidir yang kemudian diangkat menjadi bupati pertama akibat peralihan sistem pemerintahan dari swapraja ke swatantra.
Ditempat ini masih menyimpan berbagai benda pusaka kerajaan Gowa yang sebagaian besar terbuat dari emas. Siapa sangka replika Balla Lompoa akan melanglang hingga Afrika Selatan di Kampoong Macassar yang sekaligus akan dijadikan perpustakaan Syekh Yusuf ulama besar, pengarang sekaligus satria dari butta bersejarah tanah julukan Kab Gowa.
Ini untuk mengetahui lebih dalam siapa sebenarnya pahlawan pembebesan rasial bagi negara Nelson Mandela itu termasuk latar budayanya.
Jika masyarakat luar memiliki apresiasi setinggi itu terhadap budaya kita, bagaimana dengan kita yang sesungguhyna adalah pemilik dan pewaris? (herni amir)
Diposting oleh
erni
di
18.42
0
komentar
Label: budaya
Senin, 08 Desember 2008
Tradisi Accera Kalompoang
Ritual Mencuci Benda Pusaka Kerajaan Gowa.
Siang itu pukul 13.00 wita, ratusan lelaki dan perempuan dalam balutan busana adat bergegas menuju Balla Lompoa, istana kerajaan Gowa zaman dulu.
Para lelakinya mengenakan jas tutup lengkap dengan songkok guru (peci khas makassar). Sementara perempuannya memakai baju bodo, simboleng (konde khas Makassar) dan kingking lipa sabbe (cara pemakaian sarung sutra ala Makassar).
Rupanya mereka khusus berpakaian lengkap guna mengikuti Accera Kalompoang sebuah ritual penyucian benda-benda pusaka kerajaan Gowa yang dilaksanakan sekali setahun bersamaan dengan perayaan Idul Adha dimulai.
Setelah menaiki 12 anak tangga, para tamu yang sebagian besar berasal dari keluarga kerajaan Gowa berkumpul di ruang utama yang sebelumnya telah dihiasi semarak lamming (perhiasan untuk pelaminan). Dengan khidmat mereka bersila membagi dua sap saling berhadapan antara laki-laki dan perempuan. Kepulan asap dan aroma dupa yang menyengat memenuhi ruangan, menambah kesakralan suasana.
Di ruang utama juga terdapat panggung dengan posisi tepat di ujung ruangan yang diletakkan di tengah. Diisi sembilan orang Bate Salapang (dewan adat Kerajaan Gowa) duduk melingkar dan seorang keturunan langsung Raja Gowa ke 35 Andi Idjo Karaeng Lalolang yakni Andi Syamsuddin Andi Idjo Patta Sessu.
Tak lama berselang, irama gandrang sinrili dan tunrung pabballe berupa tabuhan gendang dan terompet, sahut-menyahut memainkan irama dinamis, mengiringi langkah gemulai gadis-gadis pembawa tombak (poke) yang disebut panyanggayya. Mereka muncul dari bilik penyimpanan benda pusaka (ga’dong).
Satu-satu benda kerajaan diarak menuju panggung. Dimulai dengan salokoa (mahkota) yang terbuat dari emas murni seberat 1786 gram dan bertahta 250 berlian. Pusaka ini diyakini ada sejak Raja Gowa pertama Tumanurung Bainea yang memerintah antara tahun 1300-1345 masehi.
Selain iu terdapat benda-benda pusaka kerajaan lain yang sebagaian besar terbuat dari emas murni seperti empat ponto janga-jangaya berbentuk seperti naga melingkar dengan berat 985,5 gram, empat kolara (kalung kebesaran) seberat 2.182 gram, empat kancing gaukang (kancing emas) dengan berat 277 gram, tobo kaluku (rante manila) dengan berat 270 gram yang merupakan hadiah dari kerajaan Sulu di Philipina pada abad XVI.
Tidak ketinggalan benda tajam seperti lasippo berbentuk parang dari besi tua, sudanga berbentuk kalewang yang merupakan senjata sakti atribut raja, berang manurung (parang panjang) dan mata tombak tiga jenis.
Tiga langkah dari panggung, para pembawa pusaka itu berjalan jongkok hingga ke bibir panggung dan menyerahkan langsung kepada Andi Syamsuddin. Setibanya di tangan Andi Syamsuddin, benda-benda tersebut langsung dicuci (allangiri) menggunakan air yang diambil dari bungung lompoa, sumur tua di sekitar makam Sultan Hasanuddin.
Setelah dicuci, secara berganti sembilan orang bate salapang annyossoro dengan jeruk nipis dan minyak kalompoang. Tidak berhenti sampai disitu, pelaksana hajatan yang tahun ini dipegang keluarga Andi Abdullah Bau Massepe dankeluarga Andi Darussalam Tabbusala juga maju ke depan panggung. Mereka mencelup darah hewan kurban untuk disentuhkan kepada benda-benda pusaka itu. “Prosesi tersebut dinamakan annitili,”ungkap pemandu acara pembacakan jalannya prosesi dengan jelas
Pencucian berakhir. Benda-benda telah dimasukkan kembali ke dalam bilik. Dengan serta-merta suasana berubah ramai di bibir panggung. Para keluarga kerajaan yang hadir serempak berebut air sisa yang terdapat dalam baskom berbahan kuningan. Mereka percaya air tersebut mampu mendatangkan berkah dan kebaikan.
Setelah air diperoleh, air tersebut lalu disapukan ke seluruh bagian tubuh. Jika ia disapukan ke wajah, maka akan tampak awet muda. Jika anak kecil, akan menyehatkan dan membantu tumbuh kembang anak. “Makanya saya sapukan ke wajah,biar awet muda terus,”ungkap Nadira salah satu keluarga dari Andi Bau Massepe.
Dalam pelaksanaan tahun ini, juga dihadiri wakil kesatuan pecinta senjata nusantara selangor. “Kami ingin menyaksikan warisan budaya dan menggalakkan agar generasi muda mencintai adat budaya seperti ini,”ujar Ab Majid Bujang. Selain dari Malaysia, juga dihadiri perwakilan dari Taiwan. (***)
Diposting oleh
erni
di
02.15
0
komentar
Label: budaya
blog teman
-
Fwd: Pelatihan Nasional K3 Medis / K3RS - ---------- Pesan terusan ----------Dari: INFO DIKLAT Tanggal: 12 November 2016 23.15Subjek: Fwd: Pelatihan Nasional K3 Medis / K3RSKep...9 tahun yang lalu
-
CONFIRM YOUR TRANSFER. - From The Desk of: Mr. Andrew Tweedie, Finance Department Director International Monetary Fund(IMF) Attn: Beneficiary, I wish to inform you that after m...12 tahun yang lalu
-
Mendagri Ragu Tentukan Posisi Obed - Friday, 03 February 2012 JAKARTA – Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Gamawan Fauzi masih ragu mengambil keputusan untuk mengembalikan jabatan Obednego Deppar...14 tahun yang lalu
-
Sejarah MANUJU - MANUJU.. merupakan salah satu kerajaan dari sekian banyak kerajaan di Sulawesi Selatan yang terletak di kabupaten GOWA dan merupakan kerajaan kembar dengan...17 tahun yang lalu
-