Tampilkan postingan dengan label catatan hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label catatan hati. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 Desember 2011

Amante (

aku menemukan kau
kau menemukan aku
aku dan kau membentuk kita
lalu.. kita menemukan kami
inilah muaranya...surga, (surga hati kita) ~ amante...

mario 21 nov 2010


*amante=kekasih (laki-laki) dari bahasia galisia

Lama aku tak merasa

lama aku tak merasa
merasa sesak seperti ini
ini seperti kenangan usang yang hadir kembali

kembali kutenangkan degupku
degupku bersama hujan sore ini

namun mengapa masih?
dan segala jawabnya kurasa tak perlu hadir,
sebab meski sehabis hujan, pelangi memberi tanda sukacitanya,
sore ini bukan untuk ku

lalu tiba-tiba Hp ku berdering...
dari lelaki yang pernah menjadi kekasihku
jauh dari seberang suaramu terdengar
kita bercakap sejenak
samar kudengar ucapmu “hubungi aku jika butuh pertolongan”.

ah..tahukah kau,
saat ini aku membutuhkanmu.
bukan untuk apa-apa, sekedar mendengar ceritaku,
"beberapa jam lalu hatiku dipatahkan... "

(untukmu lelaki yang kutemui sore ini. benar2 lama aku tak merasa seperti ini)

aura, 20 nov 2010

Sabtu, 13 November 2010

Hari ini, aku tak menyukaimu Ibu

Hari ini aku tak menyukaimu Ibu....sudah jam 12 siang kau belum juga pulang dari rapat PKK. Keningku tak sempat kau kecup, apalagi menanyakan bagaimana kabarku hari ini di sekolah. Padahal aku ingin memberitahumu, nilai ulangan matematikaku 10 , bukan memberitahumu lagi- aku habis berkelahi dengan teman sekelas laki-lakiku..

Ibu..aku juga berhasil menghafal 20 surah juz amma. Hanya satu orang yang berhasil mengalahkan hafalanku hari ini. Tapi bagaimana kuceritakan kalau ibu tak ada.

Hari ini sebelum kau mengecup dan memelukku, aku ingin lihat senyum ibu. Bukan gelengan kepala, lalu mencubit pipiku gemas, karena kukatakan aku berhasil menonjok mata teman kelasku yang mulai genit.

Sudah satu jam aku menunggumu bu..., bolak balik, dari pintu rumah ke pintu pagar. Lalu menengok kiri dan kanan, berharap ibu muncul tiba-tiba . Seragam sekolah tidak aku ganti. Apalagi menyentuh makanan yang sudah tersaji di meja makan.

Ibu..aku menggerutu kesal pada ibu camat. Bulan agustus begini, ibu camat pasti mondar-mandir ke rumah kita. Dia seperti lalulintas tak bersahabat yang siap mengambil seluruh perhatianmu.

Ah..apa begini nasib anak yang memiliki ibu berwajah manis, pintar memasak, jago bulu tangkis, pintar main volli, juga jago menyanyi...

Ibu kakiku sudah pegal berdiri di pintu pagar. Kenapa ibu belum juga pulang. Tolong jangan terlalu lama diluar, disini aku merindukanmu..

(jadi ingat, setiap pulang sekolah bagiku adalah hal wajib ibu ada dirumah..u ibuku sayang, trimakasiu semuanya ibu...)

Selasa, 02 November 2010

Hujan dan Kenangan

Hujan kembali turun sore ini. Meski malu-malu, butirannya terlihat jelas jatuh ke bumi. Aku diam menikmati milo hangat kesukaanku. Sepiring pisang goreng keju masih utuh belum tersentuh, tersaji di tengah meja terasku.

Aku suka hujan. Suka suaranya, suka harapan yang dibawanya. Hujan turun, pertanda rezki bagi bumi.

Dulu sewaktu kecil jika hujan datang, ku lewatkan dengan tawa, berlari, berputar, menari dan bernyanyi di pekarangan rumah. Dan ibu yang kerap berteriak memanggil namaku berulang, menyuruhku segera masuk. Aku tahu ibu selalu saja khawatir aku jatuh sakit sesudahnya.

Bisa ditebak, omelan kecil pasti mengalir dari bibir perempuan syurga itu. Lalu menyiapkan air hangat untuk kumandi kembali. Menggosok badanku dengan minyak kayu puith. Milo hangat dan sepiring pisang goreng pun akan kunikmati. Sama seperti sore ini.

Ah..Ibuku... Dalam hujan pun kasih sayangnya tetap hangat terasa

Ingatanku lalu beralih kepadamu. Sudah tiga kali hujan kita lewati bersama. Masih ingatkah kau sepenggal kenangan kita bersama hujan? tentang sepasang suami isteri diatas vespa tua, riang dalam lebatnya hujan di jalan Sudirman?

“Mungkin mereka sedang bernostalgia mengenang kemesraan masa muda dulu, sama saat umur kita nantinya seperti mereka, menggunakan motor ini,”katamu sambil tertawa.

Hujan terimakasih. Karena butiran bersama sesekali dentuman petirmu, mampu menahan langkah kami untuk pulang sore itu, menikmati sisa waktu sebelum magrib tiba dimana aku sudah harus ada di rumah.

Aku tahu, kau ikut tersenyum ketika kunikmati wajahnya dari sudut mataku, suaranya yang asih, dan sepasang matanya yang bercahaya. Dan kaupun tertawa saat mendapatinya mencuri pandang kepadaku. Lalu kami tersenyum bersama, dengan butiranmu yang perlahan melemah.

Hujan.. kau menyukainya ya..maaf aku tak dapat memenuhi janjiku kepadamu untuk terus bersamanya. Kini..kami bersepakat mengambil jalan berbeda.

makassar, 3 Sept 2010

Template by : kendhin x-template.blogspot.com -Redesign by : ute - blognatugowa.blogspot.com