
Menentukan Waktu Shalat Berdasarkan Bayangan Benda
Cirinya mudah dikenali. Penampilan serba hitam bagi kaum lelaki dipadu sorban yang melilit pada kepala dan berambut pirang sebahu serta cadar bagi sebagian kaum perempuan.Itulah jamaah An-Nadzir sebuah komunitas Islam yang telah eksis sejak tahun 1998 di Kab Gowa.
Sederhana dan penuh ketenangan itulah kesan mula ketika menginjakkan kaki di perkampungan An-Nadzir di tepi danau Mawang di kelurahan Borongloe Kecamatan Bontomarannu Kab Gowa. Pondok bambu sebagai tempat bermukim tertata rapi.
Di perkampungan ini hidup sekitar 140 kepala keluarga (KK) atau sekitar 800 orang dari latar belakang profesi berbeda. Sebagian adalah petani, sebagian lagi pegawai negeri sipil, pegawai swasta, polisi dan tentara. Untuk kehidupan sehari-hari mereka lebih banyak ditopang dari hasil menggarap lahan tidur seluas delapan hektare dengan mengembangkan potensi yang ada.
Lahan yang kosong disulap menjadi tambak ikan air tawar seperti nila dan mas serta lahan pertanian dengan menanami padi dan sayur-sayuran. Tidak berapa lama pengembangan itu berhasil dilakukan. Maklum saja, mereka ini adalah petani-petani tangguh yang memiliki dasar pertanian yang kuat. Selain itu ada beberapa diantara Jama'ah merupakan sarjana pertanian dan perikanan.
Oleh masyarakat sekitar Jama'ah An-Nadzir lebih dikenal dengan komunitas danau mawang. Maklum saja karena pusat komunitas ini memang berada di sekitar Danau Mawang. Meski demikian, jamaah ini merupakan satu kesatuan dengan jamaah An-Nadzir laiinya yang tersebar di seluruh Nusantara. Seperti di Sumatera yakni di medan, Batubara, Palembang, Riau, Dumai, dan Batam. Sementara di Kalimantan ada di Pekanbaru. "Khusus di Sulsel ada yang di Palopo, tapi memang berpusat di Mawang," ungkap ustad Lukman penanggung jawab An-Nadzir Sulsel kepada SINDO.
Menurut Ustad Lukman, An-Nadzir sendiri diambil dari bahasa Qur'an yang berarti pemberi peringatan. Peringatan bagi orang-orang An-Nadzir sendiri agar mereka takut dan malu kepada Allah SWT. Sebagai wujud ketakutan itu, dengan menegakkan hukum Allah SWT dan sunnah Rasul kepada dirinya. Sehingga kaum An-Nadzir akan merasa malu jika melakukan perbuatan yang menentang Allah SWT dan Rasul-Nya. "Sebab Allah SWT selalu ada dimanapun kami berada,"katanya.
Pemberi peringatan juga ditujukan kepada orang-orang di luar An-Nadzir agar mereka kembali membuka kitab Alqur'an dan hadist yang selama ini dibaca untuk ditegakkan sehingga dapat menjadi bahan renungan untuk menyukmai kembali perjalanan Islam sejak zaman Rasul hingga saat ini. "Renungan ini penting untuk melihat apakah sudah terjadi pelencengan atau perubahan yang dilakukan manusia,"paparnya.
Selain penampilan fisik, yang berbeda dari Jamaah ini adalah tatacara penentuan waktu shalat. Soal penentuan waktu shalat ini, Ustad Lukman mengatakan jamaah An-Nadzir berpedoman pada tatacara Rasul dengan melihat bayangan benda seperti yang diriwatkan ketika Rasul tengah diajarkan oelh malaikan Jibril.
Satu bayangan benda untuk satu dhuhur (4 rakaat), dua bayangan benda untuk ashar (4 rakaat), maghrib ketika mega-mega di utara selatan dan timur sudah turun dan yang tersisa kemerahan di ufuk barat. Ketika ada garis putih melintang Nabi diajarkan shalat isya atau dua pertiga malam dan subuh ketika fajar siddiq muncul.
Karena dhuhur dilakukan diakhir waktu ashar diawal, maghrib diawal dan isya diakhir, maka jamaah An-Nadzir shalat sekitar pukul 16.00 wita. Sementara Ashar diawal waktu sekitar pukul 16.30 wita. Maghrib pukul 19.00 Wita dan Isya pukul 03.00 wita dan selambatnya pukul 04.00 Wita.
"Kesannya seperti satu waktu, tapi sesungguhnya tidak karena waktu shalat itu tetap pada posisi waktu masing-masing,"terang ustad Lukman.
Hal inipun pernah ditanyakan oleh sahabat Rasul. Ketika Rasul ditanya seperti itu, Rasul menjawab "Aku tidak ingin memberatkan ummatku", sehingga nabi melaksanakan tatacara shalat seperti itu. "Karena kami merasa tidak berat maka kami juga melakukan hal yang dicintohkan Rasul,"tukasnya.
Kemudian dipertegas dalam Surah Huud ayat 114 yang berbunyi "Dirikanlah salat pada kedua tepi siang (pagi dan petang), dan pada bagian permulaan malam" dan pada surah Al Israa ayat 78, "Dirikanlah salat pada waktu siang (dhuhur dan ashar), permulaan malam (magrib dan isya), serta salat subuh. Sesungguhnya salat subuh itu disaksikan malaikat".(herni amir)
Mengenai Saya
Komentar
Category
- budaya (6)
- buku (4)
- catatan hati (4)
- Catatan Kecil (15)
- intermezo (1)
- jendela hati (12)
- komunitas (3)
- ucapan (1)
Sabtu, 06 Desember 2008
Komunitas An-Nadzir di Mawang
Diposting oleh
erni
di
22.17
0
komentar
Label: komunitas
Mengenal Perkumpulan Sinomang
Budaya Menabung Untuk Kematian
Kematian adalah hak. Sebab itu, setiap yang hidup pasti akan mengalami kematian. Karenanya, sebagian orang sudah mempersiapkan dengan matang, termasuk prosesi hingga memasuki liang lahat.
Hari sudah beranjak sore. Waktu menunjukkan pukul 16.00 wita. Belasan masyarakat juga baru saja meninggalkan Mesjid usai menunaikan shalat Ashar Berjamaah. Termasuk Dg Labbang imam dusun Biringkaloro Desa Tetebatu Kecamatan Pallangga.
Tapi laki-laki paruh baya itu tidak lantas pulang ke rumah. Disusurinya jalanan kampung berbahan aspal pecah-pecah sambil berjalan kaki memasuki rumah warga satu-persatu.
Rupanya hari itu, jadwal untuk menarik iuran "kematian" dari masyarakat yang masuk dalam keanggotaan Sinomang. Sesuai kesepakatan bersama, setiap orang dikenakan pungutan wajib yang cukup kecil hanya Rp1500 perbulan.
Pungutan itu kelak digunakan untuk membantu jika ada salah satu diantara mereka yang menghembuskan nafas terakhir lebih dahulu. "Uang ini akan dipakai membeli kain kafan dan semua jenis perlengkapannya mayat secara Islam hingga ke liang kubur,"ungkap Dg Labbang.
Tidak jelas kapan tradisi ini mulai berakar. Hanya saja, kebiasaan tersebut sudah berlangsung sejak jaman orang-orang tua dahulu. Apalagi tradisi ini terbukti cukup efektif membantu warga yang kurang mampu.
"Selain sebagai bentuk solidaritas sesama warga, keluarga yang ditinggalpun sudah tidak mengalami kesulitan dalam hal pembiayaan kematian karena semua ditanggung oleh kelompok sinomang,"jelasnya.
Menurut Sari Bulan salah satu warga Bontomarannu, Sinomang dapat diartikan sebagai donasi kematian. Bentuk penyerahannya kepada keluarga yang ditinggalkan bisa beragam. Ada yang berbentuk uang tunai kepada keluarga berduka seperti di wilayahnya, adapula yang langsung berupa perlengkapan mayat. "Tergantung kebiasaan daerah masing-masing, yang jelas intinya saling membantu warga,"paparnya.
Makanya lanjut Sari, tidak mengherankan jika sampai tradisi menabung untuk kematian semacam ini masih berkembang subur di tengah-tengah masyarakat. Bahkan jika disuatu daerah ada perkumpulan sinomang tak satupun warga yang tidak termasuk dalam perkumpulan itu.(herni amir)
Diposting oleh
erni
di
22.14
0
komentar
Label: komunitas
Menelusuri Desa Ballasuka
Potret Kehidupan Komunitas Terisolir Eks Kusta Tiga Kabupaten
Terkucil dan terusir sudah menjadi bagian hidup masyarakat mantan penderita kusta yang bermukim di Desa Ballasuka Kecamatan Tombolopao Kabupaten Gowa. Meski demikian, mereka tetap berjuang agar dapat diterima dalam komunitas masyarakat sebagaimana lazimnya.
Menelusuri Desa Ballasuka semua tampak biasa. Matahari pagi yang hangat. Aliran sungai Mamingka dan Balongloe yang jernih mengalir, mempertegas ciri khas sebuah perkampungan yang masih perawan. Hanya saja, yang tidak biasa ketika kita mulai memasuki lebih dalam desa yang berjarak 130 km dari Sungguminasa ini. Sekitar 64 keluarga membentuk sebuah komunitas yang hidup terisolir dari masyarakat desa lainnya. Mereka adalah komunitas eks penyandang kusta.
Seperti daerah terisolir lainnya, untuk mencapai daerah ini tidaklah mudah. Selain jarak tempuh yang jauh dari Sungguminasa Ibu kota Kab Gowa itu, kondisi jalan pun rusak parah. Akibatnya, daerah ini belum terjangkau transportasi umum. Ditambah penerangan yang belum ada, menyebabkan semakin tertutuplah berbagai akses ke komunitas mereka.
Dari penuturan Muh Duppa sang kepala suku, dulu sebelum perkampungan itu terbentuk, warganya hidup berpencar di sepanjang bantaran sungai selama sembilan tahun tanpa dukungan sandang, pangan apalagi papan yang memadai. Sampai akhirnya di tahun 1985, 38 orang pegawai Dinas kesehatan menemukan mereka. "Akhirnya yang terpencar ini saya kumpulkan dan membentuk kampung yang kami diami saat ini,"ungkap Muh Duppa.
Dia mengatakan, keberadaan kaumnya disini karena dua alasan. Ada dengan inisiatif sendiri malu terhadap keluarga, ada pula karena terbuang dari keluarga karena malu atas keberadaan mereka. Daerah yang merupakan wilayah perbatasan Sinjai-Bone-dan Gowa akhirnya menjadi tempat berkumpul yang nyaman bagi penderita penyakit serupa dari tiga kabupaten itu.
Meski telah tersentuh medis, tidak lantas komunitas mereka bisa diterima begitu saja. Sangat sulit meyakinkan masyarakat. Padahal komunitas ini sudah sembuh dan tetap menjalani pengobatan sebulan sekali untuk mencegah kembalinya penyakit itu.
Tanggapan jijik dari masyarakat selalu saja ada. Karena itupula kadang hasil pertanian, perkebunan, dan peternakan yang dihasilkan tidak dapat dipasarkan dan menghasilkan uang sepeserpun. Karenanya kenang Dg Duppa, pernah disuatu ketika karena sudah mendesak, mereka terpaksa mencuri di kebun ketela masyarakat untuk menghindari mati kelaparan.
Saat ini, dengan bantuan rumah panggung dari Jepang kehidupan di perkampungan Ballasuka memang jauh lebih baik dari awal terbentuknya. Apalagi dengan penerimaan beberapa orang masyarakat sekitar yang akhirnya menjadi penolong memasarkan hasil bumi dan peternakan seperti sayur-mayur dan telur untuk dijual di pasar tradisional Malino di Kanreapia.
Dari hasil penjualan yang hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mereka menyisihkan sedikit untuk transportasi pengobatan ke Sungguminasa. Maklum saja, obat untuk komunitas ini hanya tersedia di RSUD Syekh Yusuf.
"Uang itu hanya untuk beli beras. Tapi tetap bersyukur. Kalau kami yang bawa pasti tidak laku. Nah, sisanya kami tabung sedikit-sedikit buat ongkos ke kota yang mahal, Rp150 ribu pulang pergi,"singkatnya.
Sementara itu Bakohumas Dinas Sosial Gowa mengatakan, bahwa komunitas eks kusta di Ballasuka masuk dalam 27 kategori penyandang masalah sosial. Hanya sampai saat ini anggaran rutin untuk mereka tidak tersedia dalam APBD. Komunitas-komunitas seperti ini juga belum tercover secara khusus dalam bantuan provinsi.
"Ada beberapa komunitas seperti itu. Kita berharap semua dapat terdata dan bisa terbantu supaya bisa mendapat tempat yang lebih layak dalam kehidupan bermasyarakat,"harapnya.(herni amir)
Diposting oleh
erni
di
17.46
0
komentar
Label: komunitas
blog teman
-
Fwd: Pelatihan Nasional K3 Medis / K3RS - ---------- Pesan terusan ----------Dari: INFO DIKLAT Tanggal: 12 November 2016 23.15Subjek: Fwd: Pelatihan Nasional K3 Medis / K3RSKep...9 tahun yang lalu
-
CONFIRM YOUR TRANSFER. - From The Desk of: Mr. Andrew Tweedie, Finance Department Director International Monetary Fund(IMF) Attn: Beneficiary, I wish to inform you that after m...12 tahun yang lalu
-
Mendagri Ragu Tentukan Posisi Obed - Friday, 03 February 2012 JAKARTA – Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Gamawan Fauzi masih ragu mengambil keputusan untuk mengembalikan jabatan Obednego Deppar...14 tahun yang lalu
-
Sejarah MANUJU - MANUJU.. merupakan salah satu kerajaan dari sekian banyak kerajaan di Sulawesi Selatan yang terletak di kabupaten GOWA dan merupakan kerajaan kembar dengan...17 tahun yang lalu
-